TNWK Memperdaya Rakyat! Surat Kesepakatan Hanya Sampah, Warga Bersiap Kepung Way Kambas dengan Massa Lebih Besar


LAMPUNG TIMUR|Titikmonitor | 18 Januari 2026 – Kemarahan warga di desa penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK) berada di titik didih. Surat pernyataan yang ditandatangani pada 13 Januari lalu dituding sebagai skenario busuk untuk meredam amarah massa sementara. Faktanya, dokumen tersebut hanyalah "isapan jempol" dan taktik pengecut pihak Balai TNWK untuk mengelabui rakyat yang tengah berduka dan menderita.


Pengkhianatan dalam Secarik Kertas

Masyarakat mencium aroma amis di balik hilangnya poin tuntutan paling krusial, yakni pengusutan perusakan hutan di zona inti, dalam dokumen yang ditandatangani Kepala Balai TNWK. Patut diduga, para koordinator aksi "13 Januari" telah masuk angin dan tergiur "angin segar" dari pihak TNWK sehingga tega menggadaikan nasib ribuan warga.


"Kami mencium ada aroma culas. Kami merasa dikhianati oleh koordinator kami sendiri, Budi. Bagaimana mungkin poin paling vital hilang begitu saja? Ini bukan kesepakatan, ini penipuan terstruktur!" tegas salah seorang warga Braja Asri dengan nada geram.


Sawah Hancur, Nyawa Terancam, TNWK Berpangku Tangan

Janji TNWK untuk menjaga perbatasan agar gajah tidak merusak lahan warga terbukti omong kosong. Pada malam 17 Januari, Desa Braja Yekti kembali luluh lantak diterjang belasan gajah liar. Puluhan hektar sawah dan ladang yang menjadi tumpuan hidup warga hancur tak bersisa.


Warga harus bertaruh nyawa menghalau gajah hanya dengan alat seadanya, sementara pihak TNWK yang digaji negara untuk mengelola konflik ini justru hilang bak ditelan bumi. Luka masyarakat makin menganga mengingat Desa Braja Asri telah kehilangan nyawa Kepala Desanya yang menjadi "tumbal" konflik ini, namun pihak Balai seolah mati rasa dan enggan bertindak.


"Hampir tiap malam gajah masuk. Kami tidak bisa tidur, kami hidup dalam ketakutan yang mencekam. Sementara mereka (TNWK) duduk manis di kantornya," ujar sumber warga lainnya.


Genderang Perang: Aksi Jilid II Harga Mati


Merasa dipermainkan secara intelektual dan dirugikan secara materil, para tokoh masyarakat dan warga Desa Braja Yekti serta Braja Asri menyatakan telah memutus kepercayaan terhadap dialog-dialog formal yang berakhir buntu.

Saat ini, warga tengah melakukan konsolidasi besar-besaran untuk menggerakkan Aksi Jilid II. Kali ini, massa yang turun dipastikan akan jauh lebih besar, lebih beringas, dan tidak akan pulang sebelum ada jaminan nyata, bukan sekadar tanda tangan di atas meterai yang dianggap tak lebih dari sampah.


"Jika mereka pikir bisa menjinakkan kami dengan kertas tak berguna itu, mereka salah besar. Kami akan datang dengan massa yang lebih besar. Jangan salahkan rakyat jika amarah ini tidak lagi bisa dibendung!" ungkap salah satu tokoh masyarakat setempat.


Rakyat kini bersatu melawan kezaliman birokrasi dan dugaan konspirasi antara oknum koordinator dengan pihak Balai TNWK yang telah membiarkan rakyat mati perlahan di ladang mereka sendiri. (Amir)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama