Pringsewu - www.titikmonitor.com | Keberadaan Dekranasda sejatinya memiliki peran strategis yang sangat besar bagi masyarakat dan kemajuan daerah. Lembaga ini bukan sekedar wadah organisasi, melainkan motor penggerak ekonomi kreatif berbasis kerajinan lokal.
Dekranasda berfungsi sebagai jembatan antara para pengrajin dengan pasar yang lebih luas. Melalui pembinaan, pelatihan, hingga promosi, Dekranasda seharusnya mampu meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta mendorong lahirnya pelaku usaha baru. Dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga pada penguatan identitas budaya daerah.
Namun, kondisi di lapangan saat ini memunculkan keprihatinan. Memasuki tahun 2026, aktivitas Dekranasda Kabupaten Pringsewu terkesan sepi dan minim pengunjung. Hal ini menimbulkan kesan bahwa peran strategis yang diharapkan belum berjalan optimal, khususnya dalam aspek pemasaran dan promosi.
Keluhan juga datang dari masyarakat, termasuk salah satu pengrajin yang menitipkan produknya. Mereka merasa barang yang dititipkan seolah dibiarkan tanpa strategi penjualan yang jelas dan berkelanjutan.
Memang ada pembinaan, mas. Cuma itu loh, promosinya kurang. Padahal produknya bagus-bagus menurutku. Tapi kalau orang masuk ke dalam saja tidak ada, bagaimana mau laku, mas,” ujar salah seorang warga.
Saat dikunjungi awak media di lapangan juga memperkuat kondisi tersebut. Saat menanyakan kepada petugas yang sedang berjaga terkait minimnya jumlah produk yang dipajang, diperoleh penjelasan bahwa produk yang ditampilkan memang dibatasi dan dilakukan secara bergantian.
Biasanya kami buat bergantian penitipannya, Pak. Jadi memang kelihatan sedikit produknya,” ujar petugas.
Kebijakan tersebut justru menimbulkan pertanyaan. Sebab, semakin banyak variasi produk yang ditampilkan dalam satu waktu, seharusnya semakin besar pula daya tarik bagi pengunjung. Ragam pilihan yang kaya tidak hanya meningkatkan minat beli, tetapi juga memberi kesan bahwa Dekranasda adalah pusat kerajinan yang hidup dan dinamis.
Selain itu, sejumlah aspek lain juga patut menjadi perhatian. Dari sisi kebersihan, kondisi area display dan lingkungan sekitar perlu dijaga agar tetap nyaman bagi pengunjung. Keterlibatan generasi muda juga belum terlihat signifikan, padahal mereka memiliki potensi besar dalam menghadirkan inovasi dan memperkuat pemasaran digital.
Di sisi lain, muncul kesan bahwa aktivitas Dekranasda lebih dominan pada kegiatan seremonial dibandingkan program nyata yang berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi digital seperti Instagram dan TikTok juga dinilai belum optimal dalam mendukung promosi produk.
Padahal, lokasi yang berada di jalur strategis seharusnya menjadi keunggulan tersendiri.
Namun hingga kini, konektivitas dengan sektor pariwisata maupun kerja sama dengan travel wisata belum terlihat maksimal.
Dari sisi manajemen, transparansi pengelolaan terkait pemeliharaan, sistem penitipan produk, hingga mekanisme penjualan juga menjadi hal penting yang perlu diperkuat agar para pengrajin mendapatkan kepastian dan kepercayaan.
Dalam konteks ini, peran kepemimpinan Ketua Dekranasda Kabupaten Pringsewu, Rahayu Sri Astutik Riyanto Pamungkas, menjadi sangat strategis untuk mendorong pembenahan dan penguatan fungsi organisasi ke depan. Diharapkan, di bawah kepemimpinannya, Dekranasda dapat lebih aktif, inovatif, serta mampu menjawab tantangan zaman, khususnya dalam hal promosi, pengelolaan, dan pemberdayaan pengrajin.
Jika kondisi ini terus berlanjut, sangat disayangkan karena Dekranasda yang seharusnya menjadi pusat aktivitas ekonomi kreatif justru tampak “mati suri”. Padahal, di baliknya terdapat harapan besar para pengrajin yang menggantungkan peluang usaha dari sektor ini.
Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret berupa pembenahan menyeluruh, mulai dari strategi promosi, pengelolaan produk, hingga kolaborasi lintas sektor. Dengan demikian, Dekranasda diharapkan dapat kembali hidup, ramai, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.(Tim)



Posting Komentar