Proyek Jembatan Gantung Podosari Rp6,6 Miliar Disorot, Tenaga Kerja Didominasi Luar Daerah dan Material Dipertanyakan


Pringsewu – Pembangunan jembatan gantung di Pekon Podosari, Kabupaten Pringsewu, yang digadang-gadang menjadi penghubung vital antara Pekon Podosari dan Sukoharjo 4, kini justru menuai sorotan tajam dari masyarakat, Kamis (30/4/26).


Proyek dibawah Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga ini memiliki nilai anggaran mencapai Rp6,6 miliar dengan masa pelaksanaan 240 hari kalender, terhitung sejak 11 Desember 2025, dan dikerjakan oleh CV Langgeng Konstruksi.


Namun, berdasarkan pantauan di lokasi, selain progres pekerjaan yang masih berada pada tahap struktur dasar seperti pondasi dan pemasangan bronjong, muncul sejumlah persoalan yang memicu kekhawatiran publik.

Salah satu yang paling disorot adalah kualitas material batu yang digunakan. Warga menyebut sebagian batu yang dipasang dalam bronjong merupakan batu cadas yang mudah hancur, sehingga dinilai tidak layak untuk konstruksi penahan arus sungai.


“Kalau batunya seperti ini, mudah pecah, bagaimana mau kuat menahan arus? Ini jembatan untuk jangka panjang, bukan sementara,” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.


Tak hanya itu, proyek bernilai miliaran rupiah tersebut juga dikeluhkan karena minimnya pelibatan tenaga kerja lokal. Warga mengaku mayoritas pekerja didatangkan dari luar daerah, khususnya dari Kotabumi, sementara masyarakat sekitar hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri.


“Ini proyek besar di kampung kami, tapi kami tidak dilibatkan. Pekerjanya hampir semua dari luar,” keluh warga lainnya.


Kondisi ini memunculkan dugaan lemahnya pengawasan terhadap pelaksanaan proyek, baik dari sisi kualitas pekerjaan maupun komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat lokal.


Padahal, selain aspek teknis, proyek infrastruktur yang menggunakan anggaran negara juga dituntut memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.


Masyarakat kini berharap pihak terkait, baik pelaksana maupun instansi pengawas, segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh. Jangan sampai proyek yang seharusnya menjadi solusi konektivitas justru menyisakan persoalan baru di kemudian hari.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kontraktor maupun instansi terkait mengenai dugaan penggunaan material yang tidak sesuai standar serta minimnya keterlibatan tenaga kerja lokal. (Iyan)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama